Popular Posts

August 12, 2016

The Beginning

Ini awalku menjadi pejuang LDR
Cerita ini berdasarkan pengalaman pribadi saya, nama tidak disamarkan.
Selamat membaca 😊😊



--- 21 November 2012 akan selalu kuingat sebagai hari yang sangat berarti di dalam hidupku, suatu keputusan yang membawaku tenggelam di dalam kebahagiaan ini. ---


"Lalu, hubungan kita ini apa?", ujarku kepada seorang lelaki yang berada 571 km dariku. Ya, dia lelaki yang baru kukenal selama 3 bulan ini melalui Blackberry Messenger.

Kisahku ini berawal dari kebingungan teman sekelasku yang hendak membantu sepupunya mendapatkan kenalan. Sudah hampir dua minggu Pipin teman yang satu kelas denganku sejak kelas X ini menceritakan tentang sepupunya kepadaku dan beberapa teman perempuan yang lain. Dia memberi tahu kami bahwa sepupunya baru saja menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran dan tertarik untuk memiliki hubungan spesial. Ada seseorang yang kuanggap cocok untuk dikenalkan Pipin kepada sepupunya ini, sayangnya dia sudah memiliki pacar. Sebagai teman yang dekat dengan Pipin, aku berusaha untuk membantu menyelesaikan kebingungannya. Tak kusangka ternyata tidak mudah untuk menjadi mak comblang dan aku mulai lelah dengan hal ini. Aku kasihan melihat temanku ini keluar-masuk dari satu kelas ke kelas yang lain untuk mendapatkan orang yang tepat. Waktu yang ia miliki dapat terbuang sia-sia, padahal kami memiliki banyak hal yang harus segera diselesaikan karena di kelas XI ini kami menjadi panitia acara kerohanian Kristen di sekolah. Rupanya ketidak-tegaan ini mendorongku untuk menawarkan diri menjadi kenalan sepupunya, walau sejujurnya saat itu aku benar-benar tidak tertarik. Singkat cerita aku memulai dengan memasukkan sepupunya ini dalam daftar kontak di akun Blackberry Messenger-ku. Sombong, itulah hal yang pertama kali terpikirkan saat sudah memiliki kontaknya. Tidak kutemukan namanya dari sekian banyak pesan yang masuk! Sempat terbesit niatan untuk menghapus kontaknya, namun kupikirkan ulang hal tersebut karena aku tidak mau membuat Pipin kecewa. Akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan rasa gengsiku untuk mengawali pembicaraan dengan sekedar memberikan salam. "Halo", begitulah pesan pertamaku ke kontak dengan nama Ginanjar Yandiono Adi. Pesan itu pun berbalas dan berlanjut. Ada yang berubah dari keseharianku, pusat perhatianku kini ialah suara notifikasi pesan baru handphone-ku. Banyak hal yang kubicarakan dengannya, mulai dari hal kecil seperti lagu favorit hingga ke hal yang lebih serius seperti dunia kerja yang akan segera dihadapinya. Tidak seperti lelaki kebanyakan, dia urung berbasa-basi untuk memulai pembicaraan. Kesal rasanya bila harus menunggunya memulai percakapan lebih dulu. Mungkin bila bukan aku yang memulainya maka kami tidak akan pernah saling mengenal satu sama lain. Sejak pertama memang selalu aku yang mengawali pembicaraan, mungkin terkesan memalukan namun aku mencoba untuk membuang rasa malu itu jauh-jauh. Aku ingin lebih mengenalnya. Dia yang belum pernah kutemui dan masih menjadi orang asing di hidupku. Kuakui aku mulai penasaran dengan sosoknya yang sangat berbeda dengan teman-teman sebayaku. Dia yang berusia 6 tahun di atasku, memiliki kepribadian yang berbeda dariku. Mungkin karena jarak usia kami yang cukup jauh dan lagi pekerjaannya sebagai pelaut, membuatku berpikir berulang kali lagi untuk melangkah lebih jauh. Terlalu banyak ucapan buruk yang kudengar tentang profesinya membuatku berpikir apakah aku hanya akan dipermainkan. Keraguan untuk lebih dekat dengannya pun muncul. Akan tetapi, semakin hari aku mengetahui dan mengenal pribadinya semakin aku yakin bahwa sosoknya mampu membimbingku. Aku mulai terpesona dengan kedewasaannya. Tutur kata yang disampaikannya begitu halus. Dia juga begitu sabar dalam menghadapiku yang masih kekanakan ini. Aku mulai merasa nyaman dengan lelaki ini. Semenjak mengenalnya, aku benar-benar merasakan bila bahagia memang sederhana adanya. Pesan baru darinya selalu menciptakan simpul di bibirku, candaan ringannya yang sering kali tidak lucu namun mampu mengusir rasa jenuhku. Aku merasa ada warna baru di kanvas hidupku. Namun, ada ketakutan yang kini menghampiriku. Kekanakanku membuatku berpikir apakah dia benar-benar memiliki rasa yang sama sepertiku? Sudah 3 bulan ini kami saling mengenal dan mulai berhubungan dekat. Tetapi aku belum pernah mendapat pengakuan bagaimana perasaannya kepadaku dan kejelasan hubungan ini. Mungkin karena saat itu aku belum dewasa sehingga aku berpikir bahwa kata pacaran adalah segalanya untuk menunjukan bahwa kami saling mencintai. Dengan bermodal rasa takut bila dirinya dimiliki oleh orang lain, aku memberanikan diri bertanya padanya berkaitan dengan hubungan macam apa yang kami jalani ini.

"Dari awal mas sudah bilang, mas mau berhubungan serius. Mas mau berkomitmen sama kamu.", jawabnya.
Aku menganggap jawaban itu masih belum menjawab akan pertanyaanku mengenai hubungan ini.
"Jadi maksudnya kita ini pacaran?", tegasku padanya.
"Mas berkomitmen. Pacaran itu ada tujuan, tujuannya itu menikah. Jadi hari ini mas tegaskan kalau mas berkomitmen untuk pacaran dan menikah sama kamu.", begitu ujarnya.
Itulah hari yang tidak terlupakan bagiku, saat dimana aku mengerti bahwa dia benar-benar menginginkanku untuk bersamanya.

October 21, 2013

Pejuang LDR

Wow udah 1 tahun ya dari postingan terakhirku, malah rasanya lupa kalau aku punya blog. Yah maaf ya…
Kali ini aku mau nyeritain tentang gimana rasanya jadi pejuang LDR.
Sebelumnya aku mau pamer hehe, aku sudah taken kyaaa >.< Pacarku ini kaya popeye hayo apa hayo, iya bener dia seorang pelaut tutuuut (tapi dia ngga ngerokok lho). Berhubung dia pelaut jadi kerjaannya ya ke sana ke mari naik kapal. Yah lumayan lama sih kerjanya, 6 bulan ngga bisa ketemu gitu deh. Aku oke oke aja ditinggal tapi rasa kangennya ini lho yang ngga oke :')
Hari ini pas banget 11 bulan aku sama dia, doain kita ya teman teman supaya bisa langgeng ♥